Renungan Maulid Nabi S.A.W.

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Ketika memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan Shalawat, Kitab – Kitab sirah Nabawiyah dan pengajian pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW menghiasi hari-hari bulan itu. Inilah salah satu tanda kecintaan kita kepada baginda Rasulullah SAW

Adapun bagi para pencinta Rasulullah SAW, Allah akan menganugerahkan:

1. Digabungkan bersamanya

Secara ruhaniyah di dunia dan secara hakiki di akhirat. Prinsipnya sama seperti bila kita mencintai sesuatu, yaitu: akan ada pembenaran atas apa yang diajarkan oleh yang kita cintai, perilaku, pikiran, perasaan dan tindakan juga sangat dipengaruhi oleh apa dan siapa yang kita cintai.

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (Q.S: An-Nisa 69)

2. Kelezatan Iman

Lezatnya iman mungkin bisa digambarkan dari kisah sebagai berikut. Terkisah segera setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal tidak mau lagi menyampaikan azan. Beberapa hari angkasa Madinah tidak mendengar suara Bilal. Atas desakan Fatimah, putri Nabi SAW, Bilal mengumandangkan azan Subuh. Seluruh Madinah terguncang. Bilal mulai dengan Allahu Akbar, lalu kalimah syahadat yang pertama. Begitu ia ingin menyebutkan kalimat syahadat kedua, suaranya tersekat dalam tenggorokan. Ia berhenti pada “Muhammad” dan setelah itu tangisannya meledak, diikuti oleh tangisan Fatimah dan seluruh penduduk Madinah al-Munawarrah. Ikrar iman dalam ucapan syahadat membuat rasa rindu semakin terasa lezat.

Rasulullah saw bersabda: “Ada 3 hal yang bila ada semuanya pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman:
Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apapun selain keduanya.
Kedua, ia mencintai orang semata-mata karena Allah.
Ketiga, ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka.” (Shahih al-Bukhari)

3. Kecintaan dari Allah SWT

Karena Nabi SAW adalah mahluk yang paling dicintai Allah SWT. Siapapun yang mencintai Nabi, menyayangi, merindui kekasih Allah, tentu akan mendapat pula kecintaan dari Allah SWT.

4. Balasan cinta Rasulullah SAW

Tidak ada pencinta Nabi saw yang bertepuk sebelah tangan. Dalam riwayat yang telah diceritakan sebelumnya, betapa Rasulullah SAW merindukan pertemuan dengan umat yang mencintainya.

Terkisah pula pada detik-detik Nabi menjelang wafat, sahabat Ali R.A mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku?”

Betapa cintanya beliau pada umatnya. Akankah kita membalas cintanya dengan menyebut nama beliau disisi Allah SAW menjelang ajal kita?

5. Mendapatkan Syafaat (pembelaan)-nya yang agung.

Yaitu bantuan Nabi saw dengan izin Allah untuk meringankan dan bahkan menghapuskan hukuman bagi para pendosa, bukannya tidak mungkin seseorang bisa masuk surga tanpa dihisab bila pembelaan Rasulullah SAW diterima oleh sang Khalik.

Ketika menjelang bulan Maulid Nabi .. .
Apa kita akan merasa santai seakan-akan sama saja seperti hari yang lain?
Apa kita bersikap lebih pasif atau diam diri saja dalam menyambutnya dibanding umat nasrani yang begitu antusias menyambut Natal sebagai kelahiran Nabi Isa a.s?
Betapa mereka menyambutnya dengan kidung Natal menggema di mana-mana di gereja gereja hingga artis-artis mancanegara, ucapan “selamat Natal” dalam berbagai bentuk dari mulai kartu, email, poster, billboard, hingga acara radio, tv, bioskop, internet, hiasan-hiasan pohon natal, dan lampu-lampu yang meriah, promosi dan diskoun besar-besaran toko dan hypermarket yang saling berlomba-lomba, kembang api, lonceng berdentang-dentang, acara-acara yang semarak baik di pertokoan, restoran, perkantoran hingga ke pelosok rumah rumah kecil di berbagai belahan dunia?

Apa kita tidak tergerak untuk lebih bersuka cita pada hari mulia Maulid Nabi?
Hari kelahiran Junjungan kita yang begitu mulia, Baginda besar kita, Nabi besar Rasulullah Muhammad SAW. Lahirnya seorang utusan Allah SWT ke dunia yang membawa perubahan besar yang sangat fenomenal dalam tatanan hidup kita, sebuah ajaran yang akan membawa kita untuk ditempatkan di tingkat yang tinggi dan dicintai oleh Khaliknya!!
Awal dari revolusi akhlak yang teramat benar!! Sebuah hari yang sungguh teramat penting, hari yang begitu luar biasa terang benderangnya bagi alam semesta!!
Subhanallah . . .
Semoga petikan ayat Al-Qur’an surat Al-Anbiya 107 di awal tulisan ini bisa membuka hati kita semua, betapa pentingnya kita mencintai dan bersuka cita atas Nabi SAW.

Bila kita kaji lagi apa yang bisa kita peroleh jika kita menempatkan Nabi saw pada urutan pertama di hati, maka kita akan mendapatkan “iman yang begitu indah mempesona”.

Walaupun Nabi SAW sudah tiada, mungkin justru karena itulah kita perlu bersyukur akan keberadaan kita sekarang dengan beriman kepadanya dan menjalankan sunnah-sunnah yang telah beliau contohkan. Sebuah tantangan, perjuangan berat, teramat berat, insya Allah kita termasuk insan yang dinanti dan dijemput sendiri oleh baginda Nabi SAW kelak di akhirat, insya Allah keluarga kita akan dimohonkan syafaat oleh baginda Nabi SAW, insya Allah kita mendapat tempat spesial di mata Allah SWT, tempat yang indah tanpa dihisab, amin.

Sebagai sebuah renungan . . .
Mungkin kita sering mengucapkan dan mendengar arti shalawat yang diperuntukkan bagi baginda Nabi SAW dan keluarganya. Nah! kalau kita termasuk orang yang beriman pada Rasulullah SAW padahal kita sendiri tidak pernah berjumpa beliau, bukankah kita telah menjadi saudara Nabiyallah SAW?? Keluarga Rasulullah SAW juga?? Saya pribadi berfikir bukannya tak mungkin kalau ucapan shalawat itu juga mengandung makna ucapan shalawat bagi kita-kita yang beriman padanya. Sebuah berita gembira bila kita akhirnya bisa juga bersanding dengan nama Muhammad SAW, kekasih Allah Subhanahu wa Ta ‘ala.
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh
Kami rindukan Ya Rasulullah . . .
Kami dambakan pertemuan dengan Mu ya Nabi Allah . . .

Ya Allah . . . Dibulan Kelahiran Kekasih-Mu Ku bermohon . . . Ya Allah
Ya Rohman Ya Rohim, tanamkan Aqidah Iman sedalam-dalamnya pada diriku Keluarga Ku dan Saudara-saudaraKu serta Kaum Muslimin dan Muslimat untuk senantiasa mencintai-Mu dan Nabi Muhammad SAW, lebih dari apapun di alam semesta ini, Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Sumber : http://asysyifawalmahmuudiyyah.wordpress.com/tentangku/#comment-1252

~ oleh adzili pada 4 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: