Pengajian Undangan Di Majelis Rasullullah Jakarta

•22 September 2011 • 2 Komentar

Assalamulaikum wr.wb. Washolatu wassalamu alaika yaa sayyidi yaa rosululloh wa ‘ala alihi washohbihi wasallim. Puji dan syukur kita semua panjatkan kepada Alloh SWT zat yang bersifat dengan semua sifat kesempurnaan dan disucikan dari segala sifat kekurangan.

 

 

Beberapa hari kebelakang Majelis Ta’lim Asy-Syifaa Wal-Mahmudiyyah di Pangaduan Heubeul kedatangan Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa pimpinan Majelis Rasululloh Jakarta. Beliau berkunjung ke Syaikhona Bapak Kyai dipagi hari yang mana waktu itu Syaikhona sedang mengadakan majelis undangan di Pawenang-Sumedang, Al-Habib Munzir mengundang Syaikhona untuk berkenan memberikan tausyiah di Rutinan malam selasa tanggal 26 Sepetember 2011 di Majelis Rasululloh yang bertempat di Mesjid Al-Munawar Jl. Pasar Minggu Pancoran-Jakarta.

Seperti yang diumumkan oleh Habib Munzir sendiri di majelisnya malem selasa kemarin di Al-Munawar tanggal 19 September 2011 Insya Alloh Syikhona akan berkenan hadir untuk mengisi tausiyah tersebut dan Habib sendiri hanya akan menutup doa di akhir acara.

Selain itu juga rencana tanggal 01 Oktober 2011 di Mesjid Raya Bandung Syaikhona Bapa Kyai akan mengadakan Tabligh Akbar bersama Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, menurut informasi yang didapat acara ini juga akan disiarkan secara langsung oleh TV One. Mudah-mudahan kedua acara ini bisa berlangsung dan berjalan sukses amiin.

Untuk para mustami yang berkenan hadir di kedua acara tersebut silahkan untuk mengkoordinirnya supaya bisa terlihat syiar agama islam dengan kebersamaan yang kita jalin. Semoga pancaran cinta kepada Nabi kita Sayyidina Muhammad SAW semakin bertambah atas keberkahan dari Maha Guru kita semua dan kelak di yaumi akhir kita dikumpulkan kembali dibawah panji keluhuran Sayyidina Muhammad SAW.

Sekian pengumuman yang bisa saya sampaikan Wassalamualaikum wr.wb.

Innalilahi Waa Inna Ilaihi Roji’un

•27 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Assalamualaikum Wr.Wb
Parantos ngantunkeun urang sadayana pangersana Cep Didin bin Mama Adang rohmatullohi alaihi dinten Salasa ping 26 Juli 2011 sekitar tabuh 14.30 WIB.

Mantena sering dicarioskeun manaqibna ku Maha Guru Urang Sadayana dina tausyiahna pamugi mantena sing ditampi sadaya amalna, dijantenkeun kuburna Roudhon Min Riyadil Jannah, dikempelkeun sareng para karuhunna tur dikempelkeun sareng Junjunan Mulya Sayyidina Muhammad S.A.W.

Amiin amiin amiin yaa robbal alamiin
Ilahadroti nabiyyil mustofa sayyidina wamaulana muhammad
Alfatihah….

•16 Mei 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

DOA UNTUK BANDUNG DAN BANGSA

•2 Mei 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mohon Doa Dan Fatihahnya

•20 April 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Assalamualaikum wr.wb.
Inna lilahi wa inna ilaihi rojiuun

Kepada semua mustami, simpatisan Majelis Ta’lim dan Da’wah Asy Syifaa Wal-Mahmuudiyah, mohon doa dan fatihahnya untuk ibu dari saudara kita Ustd.Arif Faturohman ( Mang Arif Pangheub ) telah berpulang ke rohmatulloh.

Untuk itu sangat dimohonkan doa dan fatihahnya semoga beliau diterima amal ibadahnya dan dijadikan kuburnya raudoh min riyadil jannah (taman diantara taman-taman surga) dan mendapat syafaat dari Sayyidina Muhammad S.A.W. dan juga atas keberkahan putranya yang mengkhodimkan diri kepada guru kita semua Syaikhona Bapa Kyai.

Ilahadroti nabiyil mustofa sayyidina rosulillah muhammad bin abdillah….al-fatihah

wa illa ruhi ibu Siti Aisyah binti KH. M.Dimyati…..al-fatihah

Terima kasih sebelum dan sesudahnya semoga mendapat balasan yang tak terhingga dari Alloh S.W.T.

Amiin yaa robbal ‘alamin

Khotamun Nubuwah

•19 April 2011 • 1 Komentar

Dalam Kitab Madariju Su’ud sarah Kitab Barzanji karangan Al-Imam Nawawi-al Bantani R.A. terdapat gambaran cap ke-Nabi-an (khotamun nubuwah) yang terdapat pada punggung Junjunan kita  Sayyidina Muhammad S.A.W. berikut gambar yang terdapat pada Kitab Madariju Su’ud tersebut :

Barang siapa melihat cap kenabian tersebut (khotamun nubuwah) dengan penuh peng-agungan maka akan diberikan berbagai keberkahan.

Ket: warna kuning hanya sebagai ilustrasi atau aksen saja supaya terlihat jelas

Biografi Habib Zein bin Ibrohim bin Smith

•18 April 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Habib Zain lahir di ibukota Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M. Ayahnya Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu, selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius.

Guru-gurunya ialah Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz, Habib Umar bin Alwi al-Kaf, Al-Allamah Al-Sheikh Mahfuz bin Salim, Sheikh Salim Said Bukayyir Bagistan, Habib Salim bin Alwi Al-Khird, Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus, Habib Muhammad Al-Haddar (mertuanya).
pada usia empat belas tahun (1950), ayahnya memberangkatkan
Habib Zain ke Hadramaut, tepatnya kota Tarim. Di bumi awliya’ itu Habib Zain tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan.
Menyadari mahalnya waktu untuk disia-siakan, Habib Zain berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah lainnya, hingga pada akhirnya mengkhususkan belajar di ribath Tarim. Di pesantren ini nampaknya Habib Zain merasa cocok dengan keinginannya.

Di sana ia memperdalam ilmu agama, antara lain mengaji kitab ringkasan (mukhtashar) dalam bidang fikih kepada Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, di bawah asuhan Habib Muhammad pula, Habib Zain berhasil menghapalkan kitab fikih buah karya Imam Ibn Ruslan, “Zubad”, dan “Al-Irsyad” karya Asy-Syarraf Ibn Al-Muqri.

Tak cukup di situ, Habib Zain belajar kitab “Al-Minhaj” yang disusun oleh Habib Muhammad sendiri, menghapal bait-bait (nazham) “Hadiyyah As-Shadiq” karya Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan lainnya. Dalam penyampaiannya di Tarim beliau sempat berguru kepada sejumlah ulama besar seperti Habib Umar bin Alwi Al-Kaf, Syekh Salim Sa’id Bukhayyir Bagitsan, Habib Salim bin Alwi Al-Khird, Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl, Habib Abdurrahman bin Hamid As-Sirri, Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus, Habib Ibrahim bin Umar bin Agil dan Habib Abubakar bin Abdullah Al-Atthas.

Selain menimba ilmu di sana Habib Zain banyak mendatangi majlis para
ulama demi mendapat ijazah, semisal Habib Muhammad bin Hadi Assaqof, Habib Ahmad bin Musa Al-Habsyi, Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki, Habib Umar bin Ahmad bin Smith, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assaqof dan Habib Muhammad bin Ahmad Assyatiri. Melihat begitu banyaknya ulama yang didatangi, dapat disimpulkan, betapa besar semangat Habib Zain dalam rangka merengkuh ilmu pengetahuan agama, apalagi melihat lama waktu beliau tinggal di sana, yaitu kurang lebih delapan tahun.
Kemudian salah seorang gurunya bernama Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz menyarankannya pindah ke kota Baidhah, salah satu wilayah pelosok bagian negeri Yaman, untuk mengajar di ribath sekaligus berdakwah. Ini dilakukan menyusul permohonan mufti Baidhah, Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar.

Dalam perjalanan ke sana, Habib Zain singgah dulu di kediaman seorang
teman dekatnya di wilayah Aden, Habib Salim bin Abdullah Assyatiri,
yang saat itu menjadi khatib dan imam di daerah Khaur Maksar, disana
Habib Zain tinggal beberapa saat.

Selanjutnya Habib Zain melanjutkan perjalanannya di Baidhah, Habib Zain pun mendapat sambutan hangat dari sang tuan rumah Habib Muhammad Al-Haddar, di sanalah untuk pertama kali ia mengamalkan ilmunya lewat mengajar. Habib Zain menetap lebih dari 20 tahun di Rubath Baidha’ menjadi khadam ilmu kepada para penuntutnya, beliau juga menjadi mufti dalam Mazhab Syafi’e. Setelah itu beliau berpindah ke negeri Hijaz selama 12 tahun, Habib Zain telah bersama-sama dengan Habib Salim Assyatiri menguruskan Rubath di Madinah,Setelah itu Habib Salim telah berpindah ke Tarim Hadhramaut untuk menguruskan Rubath Tarim.

Habib Zain di Madinah diterima dengan ramah, muridnya banyak dan terus bertambah, dalam kesibukan mengajar dan usianya yang juga semakin meningkat, keinginan untuk terus menuntut ilmu tidak pernah pudar. Beliau mendalami ilmu Usul daripada Sheikh Zay dan Al-Syanqiti Al-Maliki. Habib Zain terus menyibukkan diri menuntut dengan Al-Allamah Ahmad bin Muhammad Hamid Al-Hasani dalam ilmu bahasa dan Ushuluddin.

Habib Zain seorang yang tinggi kurus. Lidahnya basah, tidak henti berzikrullah. Beliau sentiasa menghidupkan malamnya. Di waktu pagi Habib Zain keluar bersolat Subuh di Masjid Nabawi. Beliau beriktikaf di Masjid Nabawi sehingga matahari terbit, setelah itu beliau menuju ke Rubath untuk mengajar. Majlis Rauhah setelah asar sehingga maghrib.

Alhamdulilah menyambut kedatangan Habib Zein bin Ibrohim bin Smith pada tanggal 2-3 Mei 2011 di Majelis Ta’lim dan Da’wah Asy-Syifaa Wal-Mahmuudiyyah Sumedang. Beliau akan mengadakan multaqo dengan para ulama sebanyak 2000 ulama sebagaimana yang telah diumumkan oleh Syaikhona Bapa Kyai di majelis pengajian di Sumedang.

Multaqo akan diadakan selama dua hari rencana bertempat di majelis Pangaduan Heubeul Sumedang. Untuk para mustami, simpatisan dan segenap kaum muslim mari kita sukseskan acara yang mulia ini.

Semoga menjadi keberkahan bagi kita semua di dunia dan akhirat berkumpul dengan ulama-ulama Alloh dan menjadi penegak panji-panji Sayyiduna wa Maulana Muhammad S.A.W. dan kelak mendapat safaat dari Nabi kita termulya dan dari Ulama-Ulama Alloh.

Amiin Amiin Yaa Robbal Alamiin…..

Sumber :

pondokhabib.wordpress.com

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: